Yang pertama adalah vaksin yang berbasis vektor virus. Vaksin corona ini telah dikembangkan menggunakan vektor yang mana telah terbukti profil keamanannya sehingga dilansir akan mampu menghasilkan serta dapat melepaskan antigen imunogenik dari sel sel yang terinfeksi selama periode tertentu. Vektor adalah virus yang berasal dari famili yang berbeda contohnya adalah poxvirus, adenovirus, measles, serta togavirus serta sudah diteliti dalam pengembangan vaksin corona. Pada MERS-CoV, kandidat yang dapat menjanjikan berasal dari sebuah virus vaksinia Ankara modifikasi (MVA) yang bahkan tidak akan bereplikasi di dalam sel mamalia. Dengan memilih vektor ini, fragmen protein S yang memiliki panjang rantai protein yang berbeda-beda berhasil diekspresikan. Terlepas dari jenis fragmen protein S yang dihasilkan, antibodi penetral dan respons sel T terhadap MERS-CoV berhasil dipicu.

Terkait vaksin corona,  grup Chen Wei telah memulai uji klinis pada manusia dengan menggunakan vaksin berbasis vektor adenovirus yaitu sejak pertengahan Maret 2020. Selain itu, peneliti lain yang berasal dari Wuhan pun juga sedang melakukan uji keamanan vaksin yaitu dengan menggunakan kandidat vaksin berbasis vektor adenovirus rekombinan Ad5-nCoV. Selain menggunakan adenovirus, lentivirus juga menjadi kandidat vektor vaksin yang mana sedang diteliti oleh sebuah institusi di Shenzhen. COVID-19 dikembangkan melalui cara modifikasi lentivirus, gen mini SARS-CoV-2 dan serta memodulator imun ke dalam APC  atau antigen presenting cell buatan. Namun di sisi lain, LV-SMENP-DC dikembangkan dengan teknik modifikasi sel dendritik menggunakan vektor lentivirus yang dapat menghasilkan minigen SARS-CoV-2 SMENP serta beberapa gen imunomodulatorik. Kedua vaksin jenis ini sedang dalam tahap uji klinis fase satu sejak pertengahan  bulan Februari 2020 dan diharapkan dapat selesai tepat waktu yaitu pada akhir Desember 2024.

Selain yang dikembangkan di atas, penelitian in vivo vaksin corona yang menggunakan hewan coba model yang nantinya diharapkan tepat bagi SARS-CoV-2 juga sedang dikembangkan yang diharapkan nantinya dapat menjadi salah satu kunci dalam menilai efektivitas dan keamanan kandidat vaksin corona. Sejumlah hewan yang sedang diteliti terkait kemungkinan untuk menjadi hewan coba model bagi patogenesis SARS-CoV-2 adalah seperti hamster, musang, tikus transgenik-ACE2, serta primata non manusia. WHO atau World Health Organization juga mengungkapkan bahwa beberapa laboratorium juga telah menunjukkan bahwa primata Rhesus dan musang mempunyai kerentanan terhadap infeksi virus corona dan terdapat bukti replikasi virus serta peluruhan virus pada pemeriksaan usap hidung pada musang dan primata rhesus.

Penelitian tentang vaksin corona pada hewan coba ini masih menunjukkan hasil yang cukup terbatas. Penelitian pada Rhesus menyatakan bahwa primata ini menunjukkan respon proteksi terhadap reinfeksi corona. Disamping itu, pada penelitian sebelumnya terkait SARS-CoV-1 dan MERS-CoV, model hewan coba menunjukkan hasil bahwa vaksin terhadap kedua virus ini bisa melindungi primata non manusia. tapi pada kasus tertentu yang juga melibatkan vaksin dari virus hidup, sejumlah komplikasi pasca vaksinasi misalnya kerusakan jaringan dan infiltrasi eosinofil di paru-paru tenyata tampak terjadi pada model tikus sedangkan kerusakan sel hati pun dialami pada model musang.

SehatQ.com adalah layanan kesehatan digital yang sudah sangat berkembang sekarang ini, sehatq berhasil menyajikan berbagai layanan yang banyak disukai oleh masyarakat. Bahkan sehatq berhasil ikut andil dalam pencerdasan bangsa khususnya dalam bidang kesehatan melalui berbagai fiturnya yang dirasa cukup lengkap, akurat, dan juga update.